Senin, 31 Mei 2010

Terapi kuping menggunakan lilin

Telinga kita terdiri dari 3 bagian, yaitu bagian dalam, tengah dan luar, yang sangat berpotensi terkena kotoran, virus dan bakteri yang berujung pada permasalahannya sendiri-sendiri. Misalnya, bagian dalam telinga yang terdiri dari kanal berbentuk setengah lingkaran dan berfungsi menjaga keseimbangan tubuh, jika terinfeksi akan menyebabkan labirintitis. Labirintitis inilah yang akan memunculkan rasa mual hingga vertigo. Kemudian, bagian tengah atau gendang telinga yang berbentuk seperti busa dan bersifat lembab, jika mengalami pembengkakan akibat terlalu lembab akan mengakibatkan infeksi dan bahkan pecahnya gendang telinga.

Lalu bagaimana lilin dapat membasmi semua keluhan penyakit itu? Adalah orang Indian yang awalnya melakukan Ear Candle Therapy atau di sebut juga terapi lilin dengan menggunakan kulit jagung yang dicelupkan dalam lilin lebah. Namun, seiring dengan berkembangnya zaman, lilin yang digunakan untuk terapi adalah lilin khusus yang berlubang dengan panjang 20 sentimeter, jelas Susana Budiman, terapis terapi lilin pada bukunya Terapi Lilin Telinga (Ear Candling).

Pernah merasa kuping kita berdengung? Jika iya, itu merupakan pertanda telinga kita memiliki kotoran (earwax). Kotoran ini berupa cairan atau sekret yang keluar dari kelenjar-kelenjar yang ada di bagian luar telinga kita. Jika dibiarkan, kotoran tersebut akan menumpuk dan mengeras. Sehingga tidak bisa lagi diambil dengan cotton bud atau kapas khusus pembersih telinga yang dapat mengganggu telinga kita sendiri. Oleh sebab itu, kita membutuhkan terapi lilin untuk membantu membersihkan kotoran telinga tersebut. Proses Ear Candle Therapy dimulai dengan meminta pasien untuk memiringkan badannya di atas tempat tidur, lalu lilin terapi akan dimasukan ke dalam lubang telinga kita dan kemudian dinyalakan. Dan biasanya proses ini dilakukan pada telinga yang tidak bermasalah terlebih dahulu. Nyala api yang kecil inilah yang akan membuat proses pengisapan kotoran tertarik secara perlahan ke dasar lilin. Proses tidak lama, hanya 15-30 menit per satu lilin. Selama poses penghisapan berlangsung, terapis juga akan melakukan pemijatan di daerah belakang telinga yang bertujuan membuat pasien merasa lebih relaks dan memperlancar proses penarikan kotoran. Dan akhirnya, terapis akan menggunting lilin sesuai dengan batas terakhir lilin terbakar. Jika kita membayangkan bahwa sisa bakaran lilin akan masuk ke telinga, sebaiknya buang jauh pikiran itu. Sebab lilin dibuat dari bahan khusus yang telah dilengkapi dengan penyaring yang berfungsi mencegah sisa bakaran lilin masuk ke telinga kita.

Kalau berbicara mengenai intensitas dan jumlah pemakaian lilin terapi yang dibutuhkan, kita harus menyesuaikannya dengan kondisi penyakit dan banyaknya kotoran yang ada di dalam telinga. Kalau hanya bertujuan untuk pemeliharaan saja, kita cukup melakukannya sebanyak 6 kali dengan 2 lilin terapi saja. Sedangkan untuk yang memiliki gangguan parah pada telinga, dianjurkan untuk melakukan terapi ini sebanyak 3 hari sekali selama 3 minggu, tapi dengan catatan melakukan penyembuhan pada infeksi atau peradangannya terlebih dahulu sebelum melakukan terapi ini.


Sumber : Kompas

Temukan semuanya tentang Bisnis & Pasang Iklan: Iklan & Jasa - Iklan Baris & Iklan Gratis – Indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar